SURAT TERBUKA I Bismillahirrohmanirrohim Kepada Ikhwan 'Ulama dan Ahli Dzikir Yang Maha Tinggi di sisi Allah SWT Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Pertama-tama, segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah Muhammad SAW beserta para sahabat dan seluruh pengikutnya. Kedua, dengan segala hormat kepada semua saudara-saudaraku, semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk dan perlindungan kepada hamba-hamba-Nya yang dengan tulus memegang amanat Rasulullah. Karena kredibilitas para ulama dalam memberikan taushiyah dan tadzkirah telah dinantikan oleh umat Islam dan masyarakat umum. Selain itu, hanya kepada para ulama Nabi telah memberikan amanat tentang kebenaran Al-Qur'an dan Al-Hadits. Oleh karena itu, tujuan surat terbuka ini adalah untuk mendorong Anda bersyukur kepada Allah (tasyakur) atas segala keistimewaan dan pujian yang telah diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang terpercaya, sehingga kita dapat melanjutkan petunjuk Nabi dalam menjalankan amanat Ad-Din dan Ad-Dun-ya dengan cara membimbing Ad-Din Al Islam menuju janji Allah SWT, yaitu penegakan hukum Islam secara mutlak kepada manusia di seluruh dunia hingga akhir zaman, di mana penegakan hukum Islam tanpa syarat akan membagi keberadaan manusia menjadi dua golongan, yaitu orang-orang beriman yang dimuliakan oleh Allah dan orang-orang kafir yang hina di hadapan Allah, sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadits sahih Rasulullah: bacalah “Sesungguhnya Allah akan memuliakan perintah (Islam) di seluruh penjuru bumi. Dan Allah tidak akan membiarkan setiap kota dan desa terpencil kecuali Allah akan menganugerahkan Ad-Dinul Islam ke daerah-daerah tersebut. Allah memuliakan manusia yang beriman kepada Islam dan menghinakan manusia yang mengingkari iman.” (Hadits dari Muslim, Turmudzi, dan Abu Dawud yang diperoleh dari Tsauban dan Syadad bin 'Aus). Sesuatu yang telah Allah tunjukan dalam Al-Quran (QS At Taubah, 9:33): “Dialah (Allah) yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar untuk menyebarkannya kepada semua agama, meskipun orang-orang kafir membencinya.” Kemudian proses pun telah dipastikan dijelaskan dalam Al-Quran (QS Al Hasyr, 59:2): “Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara Ahli Kitab dari rumah-rumah mereka pada saat pertama kali mereka berkumpul (pasukan mereka). Kamu tidak menyangka mereka akan keluar, dan mengira mereka benteng-benteng mereka akan melindungi mereka dari Allah!Tetapi murka Allah datang kepada mereka dari arah yang tidak mereka duga, dan menyertakan rasa takut di dalam hati mereka, sehingga mereka tempat tinggal mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman. Maka ambillah peringatan, wahai orang-orang yang berakal budi.” Sesungguhnya Allah telah memberikan pujian khusus kepada para ulama sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran (QS Fathir, 35:28):“Dan di antara manusia, binatang melata, dan hewan ternak, mereka beragam ragam warnanya. Sesungguhnya orang-orang yang berilmu (ulama) adalah orang-orang yang takut kepada Allah, karena Allah Maha Perkasa dan Maha Pengampun.”
Selanjutnya, Allah telah memberikan kekaguman pada keutamaan-Nya, khususnya kepada Ahli Dzikir atau yang lebih populer dengan istilah ulama intelektual, melalui dua ayat dengan kesan serupa: QS An Nahl, 16:43 dan QS Al Anbiya, 21:7, yaitu: “Sebelum kamu (Muhammad), para Rasul yang Kami utus hanyalah manusia yang Kami beri wahyu. Jika kamu tidak menyadari hal ini, tanyakanlah kepada Ahli Dzikir (ulama intelektual). Oleh karena itu, dengan petunjuk sebagaimana disebutkan di atas, kita dapat mengatakan betapa pentingnya kedudukan intelektual ulama dalam membangun masyarakat dunia. Akibatnya, keduanya yang ditegaskan oleh Allah menunjukkan bahwa keberadaan Al-Qur'an telah dikonfirmasi oleh Allah sebagai pengganti Kitab Suci sebelumnya (QS Al Baqarah, 2:106): “Tidak ada satu pun dari wahyu Kami yang Kami batalkan atau Kami lupakan, melainkan Kami gantikan dengan sesuatu yang lebih baik atau serupa. Tidakkah kamu tahu bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?” Maka, insya Allah kita menerima dengan positif semua pernyataan-Nya sebagai norma hukum atas manusia sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an (QS Al Jatsiyah, 45:20): “Al-Qur'an adalah norma hukum bagi manusia, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” Dengan diperolehnya beberapa ayat yang disebutkan di atas, terdapat relevansi antara sejarah manusia dari waktu ke waktu bahwa mereka selalu berada di bawah bimbingan Rasulullah karena sesungguhnya Allah menekuninya. Dengan fakta-fakta tersebut, hal ini harus menjadi pelajaran penting bagi mereka yang memiliki amanat para rasul. Kita dapat belajar dari sejarah bagaimana semua kehancuran yang menimpa umat manusia dan bagaimana Allah telah menetapkan metode operasional-Nya kepada para Rasul-Nya sehingga pemulihan dapat dilakukan dan diimplementasikan dengan baik dan benar oleh para Rasul di bawah sadar Allah. Saat ini, Allah tidak mengutus rasul baru setelah Muhammad SAW yang telah Dia tetapkan sebagai nabi terakhir. Dan Allah tidak akan memberikan wahyu baru setelah Al-Quran. Artinya, itu adalah tanggung jawab kita yang diamanatkan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya yang Dia puji sebagai Khoiru Ummah, Antum Al A'launa dan Ijtaba yang berarti Ishtofa. Oleh karena itu, ulama yang berilmu dan intelektuallah yang dapat memahami informasi tersebut. Singkatnya, pemulihan umat manusia telah diamanatkan kepada dua kelompok tersebut karena pemahaman mereka tentang keberadaan dan tujuan Al-Quran dan instruksi para Rasul-Nya.
Maka inilah saatnya para ulama intelektual dan ulama terkemuka (Ahli Dzikir) memimpin umat manusia bersama-sama semata-mata untuk menyatukan negara umat Islam tercinta dan menjaga kekayaan sumber daya alamnya. Dan generasi kita tercinta sangat mendambakan nasihat, kepemimpinan, dan arahan dari para ulama intelektual dan ulama terkemuka. Oleh karena itu, marilah kita satukan hati kita (tansiq) dan adakan pertemuan (Mudzakarrah). Kami berharap Allah akan membimbing dan mendukung kita semua. Tentu saja masuk akal untuk memberitahukan kepada saudara saya tercinta, para ulama intelektual dan ulama terkemuka, bahwa: 01. Mengenai kelemahan dunia Islam, diperlukan konsep-konsep yang tepat yang harus sesuai dengan Al-Quran. Tanpa bermaksud mengabaikan upaya-upaya yang telah dilakukan sebelumnya oleh para ulama dan umat Islam seperti Konferensi Islam yang berpusat di Mekah dan juga Organisasi Konferensi Islam, upaya-upaya tersebut belum menunjukkan hasil yang diinginkan oleh umat Islam, yang mana hal itu disebabkan oleh kinerja dunia Islam yang masih belum pasti. Selain itu, pemerintah Barat umumnya menganggap Islam adalah ancaman. Dengan demikian, mereka dengan segala cara menciptakan konflik tanpa akhir terhadap negara-negara Muslim dan umat Muslim sendiri. Menghadapi hal tersebut, penting untuk memiliki agenda untuk meningkatkan kemampuan pencegahan, dan kemampuan mengelola berbagai masalah, tantangan, dan berbagai tren baru yang dirasakan oleh dunia Islam dan umat Islam pada umumnya. Langkah-langkah tersebut harus sesuai dengan Al-Quran dan Hadits yang sahih. 02. Wilayah negara-negara Muslim yang tercinta sebagian besar berada di lokasi strategis, pinggiran kota, dan kaya akan sumber daya alam. Oleh karena itu, merupakan tanggung jawab mutlak khususnya bagi Intelektual Ulama dan Intelektual Ulama untuk menyusun metode operasional berdasarkan Al-Quran dan Hadits yang sahih dengan tujuan untuk mempertahankan dan mengembalikan aset-aset ini menjadi kekayaan dan warisan bagi umat Islam dari generasi ke generasi dan untuk menjadi negara-negara besar yang dapat mengendalikan program kemanusiaan dan peradaban bagi seluruh umat manusia di seluruh dunia. Mereka yang tidak beriman tidak mau bertanggung jawab atas negara dan generasi mereka sendiri, dan mereka begitu apatis terhadap pentingnya kebebasan sehingga mereka menjual kekayaan negara kepada negara asing. Mereka bahkan berusaha untuk memecah belah negara menjadi bagian-bagian kecil. Dan akhirnya mereka memberi kesempatan kepada orang asing untuk mendominasi dan memimpin umat Islam. 03. Sesungguhnya jika tidak ada Nabi maka tidak akan ada Al-Quran, dan tentu saja tidak mungkin Allah menyampaikan Islam. Dan kita, sebagai pengikut Nabi, tidak akan mengenal Islam. Anehnya, mereka yang menerima Islam sebagai agama mereka tetapi menolak mengakui Al-Quran dan Hadits yang sahih sebagai petunjuk mereka.
Merupakan sebuah kenyataan, kondisi masyarakat dunia Islam saat ini, bahwa mayoritas yang menerima Islam, ironisnya, telah menjadi karikatur sebuah peradaban. Hal ini disebabkan oleh penyebaran peradaban Barat yang disebut sebagai budaya skizofrenia yang benar-benar mempengaruhi dan telah menjadi ekspresi dominan dan universal umat manusia, yang mana penyebarannya melalui senjata yang luar biasa yaitu media, khususnya televisi. Peradaban sejati Barat berasal dari sejarah Eropa di mana visinya terhadap dunia adalah tentang rasisme, identitas pribadi, dan nasionalisme. Dan kemudian mereka mengutamakan kemajuan teknologi sehingga mengabaikan moralitas dan agama. Sayangnya, kita harus mengakui bahwa kita, umat Islam, tidak memiliki kemampuan untuk melindungi diri kita sendiri karena kurangnya pemahaman kita tentang karakter dan tujuan serangan media. Akibatnya, konsekuensi yang kita derita adalah kondisi umat Islam saat ini masih belum mampu menjelaskan kerinduan untuk mencapai kepuasan tanggung jawab sejarah dan harapan. Hal ini disebabkan karena kita belum berhasil menemukan cara untuk menjelaskan kepada umat Islam bagaimana menerapkan iman mereka terhadap Islam. Oleh karena itu, untuk mengatasi semua hal yang disebutkan di atas, perlu untuk memahami tanda-tanda jihad (kerja keras atau ketekunan) dalam mempersiapkan dan memulihkan kondisi umat manusia melalui proses pengajaran Islam yang terencana dengan baik, dalam mengangkat nilai Islam ke permukaan pandangan umat manusia dengan tujuan untuk mengantisipasi semua ide non-Islami dan mencakup Janji Allah hingga akhir zaman (QS At Taubah, 9:33) dengan pemaksaannya secara total semata-mata atas Izin Allah (QS Al Hasyr, 59:2). Oleh karena itu, dengan segala hormat dan memohon rahmat Allah, saya, hamba Allah, mendorong saudara-saudara saya yang dimuliakan oleh Allah, yaitu Ulama Intelektual dan Ulama Intelektual, untuk mengadakan pertemuan (Mudzakarah) bersama dalam membahas masalah yang sangat serius ini dengan tujuan untuk menegakkan kembali tujuan dan citra Islam menuju Rahmatan lil 'Alamin pada umat manusia. Semoga Allah mendukung dan menganugerahkan semua yang telah menjadi Janji-Nya dalam kehidupan dunia ini.
“NASHRUN MINALLAHA WA FATHUN QORIB”. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh . Sumatera Selatan, 20 Syawal 1428 H/1 November 2007 M Dari hamba Allah, Muhammad Bardan Kindarto Alamat: Yayasan AKUIS (Amanat Sejahtera Umat Islam)-Pusat Jalan Raya Palembang - Pangkalan Balai KM 14 Sukajadi, Sumatera Selatan. Situs Indonesia : www.al-ulama.netSelanjutnya, Allah telah memberikan kekaguman pada keutamaan-Nya, khususnya kepada Ahli Dzikir atau yang lebih populer dengan istilah ulama intelektual, melalui dua ayat dengan kesan serupa: QS An Nahl, 16:43 dan QS Al Anbiya, 21:7, yaitu: “Sebelum kamu (Muhammad), para Rasul yang Kami utus hanyalah manusia yang Kami beri wahyu. Jika kamu tidak menyadari hal ini, tanyakanlah kepada Ahli Dzikir (ulama intelektual). Oleh karena itu, dengan petunjuk sebagaimana disebutkan di atas, kita dapat mengatakan betapa pentingnya kedudukan intelektual ulama dalam membangun masyarakat dunia. Akibatnya, keduanya yang ditegaskan oleh Allah menunjukkan bahwa keberadaan Al-Qur'an telah dikonfirmasi oleh Allah sebagai pengganti Kitab Suci sebelumnya (QS Al Baqarah, 2:106): “Tidak ada satu pun dari wahyu Kami yang Kami batalkan atau Kami lupakan, melainkan Kami gantikan dengan sesuatu yang lebih baik atau serupa. Tidakkah kamu tahu bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?” Maka, insya Allah kita menerima dengan positif semua pernyataan-Nya sebagai norma hukum atas manusia sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an (QS Al Jatsiyah, 45:20): “Al-Qur'an adalah norma hukum bagi manusia, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” Dengan diperolehnya beberapa ayat yang disebutkan di atas, terdapat relevansi antara sejarah manusia dari waktu ke waktu bahwa mereka selalu berada di bawah bimbingan Rasulullah karena sesungguhnya Allah menekuninya. Dengan fakta-fakta tersebut, hal ini harus menjadi pelajaran penting bagi mereka yang memiliki amanat para rasul. Kita dapat belajar dari sejarah bagaimana semua kehancuran yang menimpa umat manusia dan bagaimana Allah telah menetapkan metode operasional-Nya kepada para Rasul-Nya sehingga pemulihan dapat dilakukan dan diimplementasikan dengan baik dan benar oleh para Rasul di bawah sadar Allah. Saat ini, Allah tidak mengutus rasul baru setelah Muhammad SAW yang telah Dia tetapkan sebagai nabi terakhir. Dan Allah tidak akan memberikan wahyu baru setelah Al-Quran. Artinya, itu adalah tanggung jawab kita yang diamanatkan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya yang Dia puji sebagai Khoiru Ummah, Antum Al A'launa dan Ijtaba yang berarti Ishtofa. Oleh karena itu, ulama yang berilmu dan intelektuallah yang dapat memahami informasi tersebut. Singkatnya, pemulihan umat manusia telah diamanatkan kepada dua kelompok tersebut karena pemahaman mereka tentang keberadaan dan tujuan Al-Quran dan instruksi para Rasul-Nya.
Maka inilah saatnya para ulama intelektual dan ulama terkemuka (Ahli Dzikir) memimpin umat manusia bersama-sama semata-mata untuk menyatukan negara umat Islam tercinta dan menjaga kekayaan sumber daya alamnya. Dan generasi kita tercinta sangat mendambakan nasihat, kepemimpinan, dan arahan dari para ulama intelektual dan ulama terkemuka. Oleh karena itu, marilah kita satukan hati kita (tansiq) dan adakan pertemuan (Mudzakarrah). Kami berharap Allah akan membimbing dan mendukung kita semua. Tentu saja masuk akal untuk memberitahukan kepada saudara saya tercinta, para ulama intelektual dan ulama terkemuka, bahwa: 01. Mengenai kelemahan dunia Islam, diperlukan konsep-konsep yang tepat yang harus sesuai dengan Al-Quran. Tanpa bermaksud mengabaikan upaya-upaya yang telah dilakukan sebelumnya oleh para ulama dan umat Islam seperti Konferensi Islam yang berpusat di Mekah dan juga Organisasi Konferensi Islam, upaya-upaya tersebut belum menunjukkan hasil yang diinginkan oleh umat Islam, yang mana hal itu disebabkan oleh kinerja dunia Islam yang masih belum pasti. Selain itu, pemerintah Barat umumnya menganggap Islam adalah ancaman. Dengan demikian, mereka dengan segala cara menciptakan konflik tanpa akhir terhadap negara-negara Muslim dan umat Muslim sendiri. Menghadapi hal tersebut, penting untuk memiliki agenda untuk meningkatkan kemampuan pencegahan, dan kemampuan mengelola berbagai masalah, tantangan, dan berbagai tren baru yang dirasakan oleh dunia Islam dan umat Islam pada umumnya. Langkah-langkah tersebut harus sesuai dengan Al-Quran dan Hadits yang sahih. 02. Wilayah negara-negara Muslim yang tercinta sebagian besar berada di lokasi strategis, pinggiran kota, dan kaya akan sumber daya alam. Oleh karena itu, merupakan tanggung jawab mutlak khususnya bagi Intelektual Ulama dan Intelektual Ulama untuk menyusun metode operasional berdasarkan Al-Quran dan Hadits yang sahih dengan tujuan untuk mempertahankan dan mengembalikan aset-aset ini menjadi kekayaan dan warisan bagi umat Islam dari generasi ke generasi dan untuk menjadi negara-negara besar yang dapat mengendalikan program kemanusiaan dan peradaban bagi seluruh umat manusia di seluruh dunia. Mereka yang tidak beriman tidak mau bertanggung jawab atas negara dan generasi mereka sendiri, dan mereka begitu apatis terhadap pentingnya kebebasan sehingga mereka menjual kekayaan negara kepada negara asing. Mereka bahkan berusaha untuk memecah belah negara menjadi bagian-bagian kecil. Dan akhirnya mereka memberi kesempatan kepada orang asing untuk mendominasi dan memimpin umat Islam. 03. Sesungguhnya jika tidak ada Nabi maka tidak akan ada Al-Quran, dan tentu saja tidak mungkin Allah menyampaikan Islam. Dan kita, sebagai pengikut Nabi, tidak akan mengenal Islam. Anehnya, mereka yang menerima Islam sebagai agama mereka tetapi menolak mengakui Al-Quran dan Hadits yang sahih sebagai petunjuk mereka.
Merupakan sebuah kenyataan, kondisi masyarakat dunia Islam saat ini, bahwa mayoritas yang menerima Islam, ironisnya, telah menjadi karikatur sebuah peradaban. Hal ini disebabkan oleh penyebaran peradaban Barat yang disebut sebagai budaya skizofrenia yang benar-benar mempengaruhi dan telah menjadi ekspresi dominan dan universal umat manusia, yang mana penyebarannya melalui senjata yang luar biasa yaitu media, khususnya televisi. Peradaban sejati Barat berasal dari sejarah Eropa di mana visinya terhadap dunia adalah tentang rasisme, identitas pribadi, dan nasionalisme. Dan kemudian mereka mengutamakan kemajuan teknologi sehingga mengabaikan moralitas dan agama. Sayangnya, kita harus mengakui bahwa kita, umat Islam, tidak memiliki kemampuan untuk melindungi diri kita sendiri karena kurangnya pemahaman kita tentang karakter dan tujuan serangan media. Akibatnya, konsekuensi yang kita derita adalah kondisi umat Islam saat ini masih belum mampu menjelaskan kerinduan untuk mencapai kepuasan tanggung jawab sejarah dan harapan. Hal ini disebabkan karena kita belum berhasil menemukan cara untuk menjelaskan kepada umat Islam bagaimana menerapkan iman mereka terhadap Islam. Oleh karena itu, untuk mengatasi semua hal yang disebutkan di atas, perlu untuk memahami tanda-tanda jihad (kerja keras atau ketekunan) dalam mempersiapkan dan memulihkan kondisi umat manusia melalui proses pengajaran Islam yang terencana dengan baik, dalam mengangkat nilai Islam ke permukaan pandangan umat manusia dengan tujuan untuk mengantisipasi semua ide non-Islami dan mencakup Janji Allah hingga akhir zaman (QS At Taubah, 9:33) dengan pemaksaannya secara total semata-mata atas Izin Allah (QS Al Hasyr, 59:2). Oleh karena itu, dengan segala hormat dan memohon rahmat Allah, saya, hamba Allah, mendorong saudara-saudara saya yang dimuliakan oleh Allah, yaitu Ulama Intelektual dan Ulama Intelektual, untuk mengadakan pertemuan (Mudzakarah) bersama dalam membahas masalah yang sangat serius ini dengan tujuan untuk menegakkan kembali tujuan dan citra Islam menuju Rahmatan lil 'Alamin pada umat manusia. Semoga Allah mendukung dan menganugerahkan semua yang telah menjadi Janji-Nya dalam kehidupan dunia ini.
